OLAH SPIRITUAL DAN KEBATINAN

ABAHOlah spiritual berkaitan dengan pengolahan kekuatan spiritual manusia, kemampuan gaib spiritual, sampai pada kemampuan mengetahui sesuatu yang tidak tampak mata, asal-usul tentang sesuatu, kejadian-kejadian pada masa lalu, hingga kejadian-kejadian yang akan datang. Dalam mempelajari sesuatu, dengan olah spiritual orang akan dapat mengetahui, memiliki pengetahuan tentang sesuatu bukan hanya sebatas kulitnya, tetapi juga sampai kepada hakekatnya (aspek filosofi dan kesejatian dari sesuatu). 
Cakra tubuh yang bekerja adalah cakra yang berada di leher, cakra di dahi dan di ubun-ubun kepala, sampai cakra mahkota. Di atas ubun-ubun ada cakra mahkota yang bentuknya seperti corong bersusun 2. Dengan cakra mahkota, orang bisa menyerap energi spiritual alam semesta dan bisa untuk menangkap intisari alam spiritual, sehingga bisa mengetahui rahasia alam semesta dan rahasia alam kehidupan. Kemampuan mengetahui kesejatian dari suatu pengetahuan yang didapat dari olah spiritual inilah yang membedakan ilmu spiritual dengan ilmu-ilmu kebatinan dan ilmu-ilmu kegaiban yang lain, dan pengetahuan kebenaran ini akan menjadi suatu kebijaksanaan yang bersifat kesepuhan.
Olah spiritual juga menghasilkan kekuatan, yaitu kekuatan spiritual, yang berasal dari cakra di ubun-ubun dan cakra mahkota, yang dapat disalurkan melalui kekuatan pikiran. Selain berasal dari kesadarannya sendiri, kekuatan itu juga berasal dari kekuatan roh (roh pancer dan sedulur papatnya) yang seolah-olah berada di belakangnya (di belakang kepalanya) dan menyatukan kekuatannya dengan kekuatan orang tersebut. Bila digunakan untuk berhadapan dengan kekuatan mahluk halus, kekuatannya dapat untuk mendeteksi dan menyerang mahluk halus, bukan hanya yang tingkat rendah, tetapi juga yang berkekuatan dan berdimensi tinggi. 
Pada orang-orang yang mendalami kebatinan, kepekaan dan kekuatan rasa dan batin akan dapat dirasakan di dada sebagai suatu getaran atau tekanan di dada yang kekuatannya dapat disalurkan menjadi kekuatan tangan / tubuh atau kekuatan kata-kata. 
Secara alami, kekuatan kebatinan akan dirasakan sebagai kekuatan energi yang besar berupa getaran rasa dan tekanan di dada, dan tergantung pada penguasaan masing-masing orang, selain melalui amalan kebatinan, kekuatan kebatinan dapat diwujudkan menjadi kekuatan tangan / tubuh, atau kekuatan kehendak dan kata-kata. Kekuatan kebatinan itu juga dapat dibentuk menjadi pagaran energi atau untuk menyerang / menundukkan mahluk halus atau untuk menghapuskan / menenggelamkan kekuatan ilmu gaib dan ilmu khodam. Dan getaran perbawa kebatinannya juga akan dapat dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya (kecuali orang tersebut merendahkan hati dan menutupi / menyembunyikan kekuatan kebatinannya).
Pada orang-orang yang mendalami olah spiritual, kepekaan dan kekuatan spiritual akan dapat dirasakan sebagai suatu getaran atau tekanan di ubun-ubun kepala atau sesuatu yang meremang di atas atau di belakang kepalanya yang energinya dapat disalurkan melalui kekuatan pikiran. 
Secara alami, kekuatan spiritual akan dirasakan sebagai kekuatan energi yang tajam yang terpancar lewat kekuatan pikiran, suatu kekuatan energi yang tajam yang dapat untuk menembus pagaran gaib / energi, atau menyerang menusuk mahluk halus, atau untuk menembus / membuka tabir-tabir kegaiban. Kekuatan pikiran itu juga dapat dibentuk menjadi pagaran energi atau untuk melunturkan / memunahkan kekuatan ilmu gaib dan ilmu khodam. Dan aura spiritualnya akan dapat dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya sebagai suatu karisma tersendiri yang terpancar di wajah atau sorot matanya.
Seringkali kekuatan spiritual ini tidak dapat disatukan dengan kekuatan tubuh, tetapi orang-orang yang menekuni olah spiritual sebagai kelanjutan dari olah kebatinan, maka mereka juga akan menguasai kekuatan kebatinan sekaligus kekuatan spiritual, kekuatan tubuh dan kehendak sekaligus kekuatan pikiran.
Olah Kebatinan  berkaitan dengan pengolahan kekuatan kebatinan, ilmu-ilmu gaib kebatinan, dan disertai dengan landasan filosofi kebatinan spiritual, misalnya dalam kebatinan kejawen ada cerita saudara kembar sedulur papat kalima pancer, filosofi dalam pewayangan, ilmu kasampurnan (kesempurnaan), konsep manunggaling kawula lan Gusti, dsb.
Bagi orang-orang yang mempelajari kebatinan, berbagai cerita dalam filosofi kebatinan spiritual tersebut di atas adalah dasar tuntunan untuk berperilaku (budi pekerti), tuntunan kerohanian, sasaran / tujuan pencapaian ilmu dan bumbu cerita kebatinan spiritual. Pengetahuan gaib atau tentang kejadian-kejadian yang akan datang, dsb, seringkali didapatkannya dari ilham atau bisikan gaib / wangsit.
Tetapi banyak para pemula (termasuk praktisi kebatinan yang sebenarnya keilmuan kebatinannya masih tingkat dasar) yang bisa bercerita tentang hal-hal filosofis di atas, tetapi sebenarnya mereka sendiri belum sampai pada kemampuan untuk mengetahui sendiri kebenarannya, dan banyak orang yang bisa melihat gaib, tetapi belum tentu tahu kesejatian dari apa yang dilihatnya, apalagi yang hanya sekedar ‘ngecap’ saja, seolah-olah mereka benar sudah menguasai dan mengetahui sendiri kebenarannya. 
Mereka yang mendalami suatu olah kebatinan, biasanya juga memahami aspek spiritual dari olah kebatinan yang ditekuninya. Tetapi aspek spiritual yang lebih tinggi biasanya tidak ditekuninya, karena biasanya hanya berkonsentrasi pada aspek spiritual yang terkait dengan apa yang sedang dijalaninya saja. Tetapi para tokoh kebatinan, yang menemukan konsep-konsep kebatinan, yang kemudian mengajarkannya kepada murid-murid atau para pengikutnya, biasanya telah menguasai aspek spiritual dari kebatinannya secara mendalam dan juga menguasai aspek spiritual lain yang lebih tinggi.
Olah Spiritual  berkaitan dengan pengolahan kekuatan spiritual, kemampuan gaib dan kemampuan manusia untuk sampai pada kemampuan mengetahui tentang sesuatu yang tidak tampak mata, asal-usul tentang sesuatu (kesejatian), kejadian-kejadian pada masa lalu hingga kejadian-kejadian yang akan datang. Dalam mempelajari sesuatu, dengan olah spiritual orang akan dapat mengetahui bukan hanya sebatas kulitnya, tetapi juga sampai kepada hakekat kesejatiannya. Bagi orang yang sudah menekuni tahapan spiritual, berbagai cerita dalam filosofi kebatinan spiritual tersebut di atas bukan hanya menjadi dasar tuntunan untuk berperilaku (budi pekerti), sasaran / tujuan pencapaian ilmu dan bumbu cerita kebatinan spiritual, tetapi mereka sendiri dapat memiliki kemampuan untuk mengetahui sendiri kebenarannya. Jadi mereka bukan hanya sekedar ‘ngecap’.

Biasanya orang yang sudah mendalami olah spiritual dan mampu menguasainya, walaupun hanya sebagian saja, akan lebih banyak diam, tidak pamer atau menonjolkan diri, karena dia sendiri sadar lebih mengetahui sesuatu daripada orang lain, dan seringkali dianggap lebih baik kalau diam, tidak pamer. Diperibahasakan seperti ilmu padi :  ” makin berisi makin merunduk “. Inilah yang kemudian menjadi suatu kebijaksanaan yang bersifat kesepuhan.

Banyak orang yang baru mempelajari sesuatu ilmu, baru sepotong atau baru sebatas kulitnya saja sudah sesumbar seolah-olah ilmunya sudah mumpuni. Air beriak tanda tak dalam. Tetapi orang yang sudah dalam ilmunya biasanya lebih memilih diam dan diam-diam dia dapat mengukur kedalaman / ketinggian ilmu seseorang. Orang  ‘berisi’  yang memilih diam, biasanya ilmunya lebih dapat berkembang, karena dia memiliki banyak waktu untuk memperhatikan lingkungan dan belajar dari kehidupan sehari-hari ataupun dari pengalaman orang lain.

Kebanyakan orang hanya ingin mempraktekkan ilmunya saja dan mempertunjukkan ilmunya, sehingga dirinya dipandang hebat, tapi tidak berusaha mengembangkannya, apalagi setelah berpisah dari gurunya. Dengan demikian orang tersebut tidak akan bisa mencapai tingkatan seperti gurunya atau melebihinya. Apabila suatu saat nanti orang tersebut mempunyai murid, dan perilakunya itu berlaku sama pada murid-muridnya nanti, maka dunia keilmuan semakin lama akan semakin surut. Padahal seharusnya setiap murid harus melebihi gurunya, sehingga dunia keilmuan akan berkembang terus. Kesadaran itu yang seringkali tidak dimiliki oleh kebanyakan orang.

Laku kebatinan dan spiritual biasanya merupakan sesuatu yang tidak terpisahkan, menjadi satu kesatuan yang dilakukan bersama-sama. Spiritualitas yang tinggi biasanya adalah hasil dari laku kebatinan dan spiritual seseorang dalam rangka pencarian ketuhanan. Biasanya seseorang menekuni dunia spiritual adalah sebagai kelanjutan dari laku kebatinannya, biasanya adalah laku kebatinan ketuhanan, yang kemudian dilanjutkan menjadi laku spiritual pencarian ketuhanan. Dengan demikian orang tersebut telah menguasai sekaligus aspek kebatinan dan spiritual, dan kekuatan sukmanya juga berasal dari kekuatan kebatinan dan spiritual tersebut.

Pada tahapan kebatinan seseorang memusatkan perhatian secara batin, mengedepankan rasa dan kekuatan kebatinan untuk mengetahui sesuatu yang sifatnya tinggi bagi orang kebanyakan. Pada proses selanjutnya, orang itu memusatkan perhatiannya di”awang-awang”, untuk mengetahui kesejatian dari apa yang dilihat / diketahuinya. Dalam proses pencarian spiritual itu, olah kebatinan dan olah spiritual dilakukan secara bersama-sama, sehingga proses laku dan keilmuan kebatinan dan spiritual tidak dapat dipisahkan, yang membedakan hanyalah sejauh mana laku kebatinan dan spiritual itu dilakukan oleh seseorang. Energi di cakra ubun-ubun kepala dan cakra mahkota akan bekerja mengikuti proses laku spiritual orang tersebut.

Bila anda memiliki kemampuan untuk melihat gaib, dan bila kemampuan anda itu sangat tajam dan dalam, anda akan dapat melihat suatu lingkaran cahaya,  yang biasa disebut  halo,  di belakang kepala orang-orang yang sudah menekuni tahapan olah spiritual. Halo ini adalah pancaran cahaya aura dari kekuatan spiritual  yang telah dicapai oleh seseorang. Semakin luas / lebar lingkarannya semakin kuat spiritualitasnya. Bila dihubungkan dengan mahluk halus, kekuatan gaib spiritual ini bukan hanya dapat untuk menghadapi mahluk gaib kelas rendah seperti dedemit dan jin kelas bawah, tetapi juga bisa untuk berhadapan dengan kekuatan mahluk gaib tingkat tinggi yang lebih daripada buto.

Selain kekuatan spiritualitas yang ditentukan oleh luas lingkarannya, ada bentuk tanda lain dari halo yang melambangkan tingkatan dimensi pengetahuan gaib  yang telah dicapai oleh seseorang, yaitu warna dari cahaya halo tersebut. Tingkatan dimensi pengetahuan gaib ini terutama terkait dengan hal-hal gaib tingkat tinggi yang tidak dapat diketahui bila hanya mengandalkan kemampuan berpikir saja, kebatinan saja atau mengandalkan kemampuan melihat gaib dengan cakra mata ketiga saja, seperti untuk mendeteksi dan mengetahui keberadaan mahluk halus berdimensi tinggi seperti dewa dan buto, pengetahuan tentang dewa dan wahyu dewa, dan ada tidaknya suatu wahyu pada diri seseorang yang kewahyon, atau pengetahuan tentang kesejatian hidup dan pengetahuan tentang kesejatian Tuhan (walaupun mungkin hanya sebatas ‘Cahaya’ -Nya saja).

Warna cahaya lingkaran halo sesuai urutan tingkatannya adalah sbb :
1. Warna Ungu.
2. Warna Kuning.
3. Warna Emas  (warna emas adalah tingkatan tertinggi).

Biasanya pancaran cahaya halo di belakang kepala seseorang sangat sulit dilihat, termasuk oleh orang yang dapat melihat gaib, apalagi kalau warna sinarnya tipis, tidak tebal. Biasanya pancaran cahaya halo ini hanya dapat dilihat oleh orang yang kemampuan melihat gaibnya sangat tajam. Tetapi lingkaran halo yang warnanya tebal (kuat) mungkin akan lebih mudah dilihat daripada yang pancaran sinarnya tipis. Tebal – tipisnya warna cahaya lingkaran halo itu melambangkan kedalaman pengetahuan spiritual yang dikuasai seseorang sesuai tingkatan pengetahuannya masing-masing.

Sinar lingkaran halo berwarna kuning dan emas menandakan orang tersebut sudah menekuni tingkatan olah pengetahuan spiritual dimensi yang tertinggi, yaitu spiritual ketuhanan, biasanya dilakukannya dalam rangka pencarian ketuhanan.

Contoh tokoh manusia yang telah mencapai tingkatan kebatinan dan spiritual tingkat tinggi adalah Budha Gautama, dengan lingkaran halo berwarna kuning dan tepi lingkarannya berwarna emas. Budha Gautama adalah seorang bangsawan yang telah meninggalkan keduniawiannya untuk menjalani panggilan hidup sebagai seorang spiritualis yang menerangi orang lain agar menjadi lebih baik kualitas kepribadiannya sebagai manusia. Seorang spiritualis sejati, yang karena panggilan hidupnya, telah menjalani berbagai macam laku prihatin dan tirakat dan telah meninggalkan semua pamrih keduniawian untuk mencapai tujuannya. Beliau telah mencapai tahapan “Pencerahan” setelah mengenal sifat-sifat Tuhan dari “Cahaya” -Nya dan karenanya kemudian juga mengetahui banyak rahasia kehidupan, sehingga menjadi seorang yang “Tercerahkan” dan mendedikasikan dirinya sesuai panggilan hidupnya.

Sesuai pencapaiannya itu juga segala keilmuan kesaktian kanuragan, kebatinan dan spiritualnya menjadi seperti “bertumbuh-bertambah”, karena beliau telah menguasai sisi filosofis kesejatian dari keilmuannya, menjadi seorang yang digdaya, linuwih dan waskita, jiwa dan raganya. Karenanya, beliau menjadi seorang yang memiliki kesaktian “super” dibandingkan manusia lain, semasa hidupnya di dunia maupun sukmanya di alam roh. Dan atas dedikasinya pada panggilan hidupnya itu telah menjadikannya seorang tokoh manusia yang memiliki hikmat kebijaksanaan kesepuhan yang digunakannya untuk menerangi dan mengayomi orang lain.

Dewi Kuan Im adalah salah satu dewa yang telah memberinya wahyu keilmuan dan spiritual, dan beliau mengetahui itu. Karena itu beliau sangat menghormati sang Dewi.

————–
Di negara India dan sekitarnya, yang sampai sekarang masih tetap sebagai wilayah dengan budaya kebatinan dan spiritual tertinggi nomor 1 di dunia, banyak ajaran tentang keilmuan kebatinan dan spiritual. Salah satunya adalah ajaran pengolahan kekuatan spiritual dalam bentuk energi kundalini, yang banyak dilakukan dengan cara yoga dan meditasi. Dalam proses pembelajaran kundalini diajarkan cara membuka cakra-cakra tubuh, dari cakra yang paling dasar sampai cakra mahkota. Keilmuan membuka cakra-cakra tubuh dan pengendalian kundalini dilakukan sebagai pelajaran tingkat lanjut, untuk orang-orang yang sebelumnya telah menjalani keilmuan batin / spiritual dan tenaga dalam atau kanuragan, sebagai pelengkap, dan sebagai upaya melipat-gandakan besarnya energi tubuh, bukan untuk orang awam yang belum mengerti apa-apa tentang kundalini.
Tujuan utama pembukaan cakra-cakra tubuh tersebut adalah untuk mengolah energi yang dihasilkan oleh cakra-cakra tersebut untuk kesehatan dan vitalitas, juga untuk menambah kekuatan tenaga dalam, kesaktian gaib dan olah spiritual. Pembukaan cakra-cakra tersebut tidak dikhususkan untuk melihat gaib, dan dengan telah terbukanya cakra mahkota tidak berarti seseorang langsung dapat melihat alam gaib atau mengetahui seluk-beluk alam dunia spiritual, karena pengetahuan spiritual harus dipelajari sendiri berdasarkan proses “pencarian spiritual”.
Masing-masing cakra tubuh harus dibuka dengan cara / sugesti sendiri-sendiri sesuai tujuannya masing-masing:
 – Bila ditujukan untuk pengolahan energi, maka sugesti pembukaannya haruslah untuk pengolahan energi.
 – Bila ditujukan untuk melihat gaib, maka sugesti pembukaannya haruslah untuk kemampuan melihat gaib.
 – Bila ditujukan untuk olah spiritual, maka sugesti pembukaannya haruslah untuk tujuan olah spiritual.
Awalnya suatu pengetahuan spiritual dapat diterima dari ajaran orang lain atau cerita di masyarakat, tetapi kemudian harus dicari sendiri kebenarannya. Segala kegaiban dan rahasia yang tidak terungkap melalui indera manusia, yang hanya bisa dirasakan secara batin, itulah yang harus dipelajari, dari kegaiban tingkat rendah sampai kegaiban tingkat tinggi. Seberapa kuat ketekunan dan olah spiritual yang dilakukan seseorang akan menentukan tingkat kekuatan spiritualnya (yang ditandai dengan lebar / luas lingkaran halo di belakang kepalanya), dan seberapa dalam atau tingginya dimensi pengetahuan yang telah dicapainya (yang ditandai dengan warna dari lingkaran halo di belakang kepalanya) akan menentukan tingkat pengetahuan spiritual yang berhasil dicapainya.
Setelah seseorang dapat mendeteksi dan membuktikan sendiri kebenarannya, barulah dia benar menguasai spiritual itu. Cakra di ubun-ubun kepala dan cakra mahkota akan terbuka dengan sendirinya mengikuti perkembangan spiritual seseorang. Jadi dengan telah terbukanya cakra mahkota tidak berarti seseorang langsung mengetahui seluk-beluk alam spiritual (misalnya yang dibuka dengan meditasi kundalini). Tetapi dengan telah terbukanya cakra mahkota akan mempermudah seseorang menyerap dan menghimpun intisari energi alam spiritual dan juga mempermudah mempelajari dunia spiritual.
Dapat diibaratkan seperti seseorang yang mencari-cari makanan untuk dimakannya. Setelah ditemukannya makanan itu dan dia akan memakannya, maka otomatis mulutnya akan terbuka dengan sendirinya untuk menerima makanan itu. Berbeda dengan orang yang sudah sejak awal membuka mulutnya. Sekalipun mulutnya sudah terbuka, tidak secara otomatis makanan akan masuk sendiri ke mulutnya. Makanan itu harus dicarinya terlebih dahulu. Setelah ditemukannya, barulah dia membuka mulutnya untuk memakannya.

Tanda-tanda cakra mata ketiga mulai terbuka adalah ketika pada saat meditasi (mata terpejam) seolah-olah kita seperti melihat kabut putih tebal. Sesudah itu akan kelihatan gelap gulita. Barulah, dengan mata tetap terpejam, mulai melihat sosok-sosok halus di dalam kegelapan. Kalau sudah terlatih nantinya sosok-sosok halus itu akan tampak lebih jelas dan kita dapat melihatnya dengan mata terbuka, tidak lagi harus terus terpejam.

Tanda-tanda cakra di ubun-ubun kepala mulai terbuka adalah ketika kita memikirkan atau menerawang gaib akan terasa ada tekanan di ubun-ubun kepala. Tapi itu baru cakra di ubun-ubun kepala. Di atas kepala masih ada cakra mahkota. Cakra mahkota akan terbuka dengan sendirinya mengikuti perkembangan spiritual seseorang, setelah cakra di ubun-ubun kepala terbuka.

Cahaya dan bola energi bisa dihasilkan dengan kekuatan pikiran, tapi hanya bisa dilihat secara gaib. Itu yang diajarkan dalam pelatihan meditasi kundalini. Energi yang dihasilkan digunakan untuk menambah kekuatan tenaga dalam / kanuragan dan untuk kebatinan / spiritual. Sebenarnya itu pelajaran tingkat tinggi, pelajaran tingkat lanjut, yang diajarkan kepada seseorang yang telah menguasai olah kanuragan, tenaga dalam kundalini / prana dan kebatinan. Jadi seperti sekarang diajarkan kepada masyarakat umum dan awam, seringkali pesertanya bingung energinya mau digunakan untuk apa ?  Dan karena pelajaran tingkat dasar untuk pemula tidak lebih dulu diajarkan, kemudian dapat muncul kejadian yang biasa disebut kundalini syndrome.

————-

Seorang pembaca mengirimkan pertanyaan lewat email :
From     :  Nikoagus Setiawan
To         :  Gus Arif
Date      :  Tue, Nov 22, 2011
Bagaimanakah cara olah spriritual agar dapat mengetahui hakekat kesejatian alam semesta?
Apakah dengan tirakat?

Jawab :
Seseorang yang sudah mempelajari dunia spiritual, termasuk yang digelari master spiritual sekalipun, tidak berarti dia mengetahui segala-galanya. Tentang aspek pengetahuan apa yang diketahuinya dan akan menjadi sejauh mana pengembangan spiritualitasnya akan tergantung pada interest masing-masing. Penulis juga tidak bermaksud sok tahu untuk menjawab pertanyaan tersebut di atas.
Untuk kita yang hidup di jaman sekarang ini, pengetahuan spiritual biasanya berasal dari pencarian pribadi. Apalagi sehari-harinya kita memiliki kesibukan sendiri-sendiri. Pengetahuan spiritual tidak melulu harus dipelajari dengan mengikuti suatu perkumpulan kebatinan / spiritual, karena bisa juga berasal dari perenungan-perenungan, dan tidak harus dalam bentuk pengetahuan khusus atau diperoleh dengan cara meditasi khusus, atau menyepi menjadi seperti seorang panembahan / pertapa jaman dulu.
Bila suatu objek atau pengetahuan tidak dapat dibuktikan kebenarannya, termasuk dengan cara kebatinan / spiritual maupun dengan cara-cara modern, maka pengetahuan itu hanyalah sebuah cerita, legenda, teori (termasuk teori ilmiah), atau mitos dan tahayul, atau dogma dan doktrin, dan atas hal itu seseorang hanya mempunyai 2 pilihan, percaya atau tidak percaya.
Tetapi prinsip dasar-nya sama. Seseorang harus memiliki suatu kepekaan / kebijaksanaan / kemampuan untuk dapat mengetahui sesuatu yang benar-benar ada, tetapi tidak tertangkap indera manusia, hanya bisa dirasakan dengan batin, dengan rasa.  Itulah yang harus dipelajari dan harus bisa dibuktikan sendiri kebenarannya. Dan dibutuhkan suatu kebijaksanaan untuk dapat memisahkan mana yang sudah berupa kebenaran dan mana yang masih berupa mitos, kepercayaan, dogma dan doktrin, dsb, yang masih harus dibuktikan kebenarannya. Dan juga dibutuhkan suatu kebijaksanaan untuk tidak mempertentangkan apa yang diketahuinya dengan pandangan dan pendapat orang lain yang tidak mempunyai kemampuan untuk membuktikan kebenarannya, sehingga baginya semuanya itu akan menjadi suatu pengetahuan dan kebijaksanaan yang bersifat kesepuhan.

Dalam proses pembelajaran kebatinan dan spiritual, yang pertama dan yang utama harus dimiliki dahulu adalah kepekaan rasa batin  (baca: Olah Rasa & Ilmu Kebatinan), bukan kemampuan melihat gaib, bukan juga pembukaan cakra mahkota. Kepekaan rasa itu juga yang nantinya akan berlanjut dengan ide-ide atau ilham-ilham jawaban yang mengalir dalam pikiran seseorang, menuntunnya dalam proses pencarian dan proses pembuktian kebenarannya.
Setelah dengan kepekaan rasa seseorang dapat merasakan sesuatu yang bersifat gaib, karena tidak dapat diinderai dengan panca indera, barulah kemudian dipertegas dengan cara melihat gaib, atau dengan cara-cara kebatinan dan spiritual, atau dengan cara-cara yang lain. Kalau kita terbiasa mengasah kepekaan rasa batin, biasanya sukma kita juga akan bekerja, sehingga walaupun tidak bisa melihat gaib, tetapi kita dapat juga mendeteksi keberadaan sesuatu gaib dan bisa terbayang juga sosoknya seperti apa, termasuk sosok gaib yang berdimensi tinggi. Begitu juga dengan pengetahuan yang sifatnya berdimensi tinggi.
Walaupun tidak harus, tetapi kepekaan rasa dan kemampuan melihat gaib seringkali harus diasah atau dipelajari melalui program-program atau perkumpulan kebatinan / spiritual dan perkumpulan orang-orang yang gemar dengan hal-hal gaib.
Objek pengetahuan yang akan dipelajari bisa didapatkan dari cerita agama, atau cerita misteri alam gaib di masyarakat, atau tentang suatu keilmuan tertentu, atau apa saja dalam kehidupan kita, yang nantinya akan berkembang sendiri sesuai interest masing-masing. Dalam proses mempelajari kebenaran dan aspek pengetahuan di dalamnya, keberadaan sosok guru sejati akan sangat berguna untuk menuntunnya ke arah pengetahuan yang benar dan dalam tempo yang lebih singkat, dibandingkan bila harus melakukan pencarian sendiri. Sosok guru sejati ini bisa siapa saja, bisa manusia, bisa khodam ilmu / pendamping, bisa roh-roh leluhur, bangsa jin, dewa, roh sedulur papat, dsb.
Bila kemudian aspek suatu pengetahuan sudah didapatkannya, walaupun tidak ada lagi sosok guru yang dapat menuntunnya, dia masih dapat bergerak sendiri melakukan pencarian ke dimensi pengetahuan yang lebih tinggi. Ketika seseorang sudah sampai pada tahapan ini maka kedekatan dengan para roh sedulur papat akan berguna sekali untuk menuntunnya mencapai pengetahuan yang tidak dapat diketahui sendiri bila hanya mengandalkan kesadaran atau logika berpikir. Para sedulur papat akan membantu dengan cara memberikan penglihatan-penglihatan, ide-ide dan ilham tentang suatu objek pencarian atau jawaban atas suatu permasalahan, menjadi sosok Guru Sejati bagi seseorang.
Bila para guru sejati dapat menuntun kita, atau kita sendiri bersama para sedulur papat, dapat menemukan jalan atau dapat mendeteksi keberadaan Roh Agung Alam Semesta, Roh Tuhan, walaupun mungkin hanya sebatas “Cahaya’ -Nya saja, berarti kita sudah mencapai awal dari suatu tahapan dimensi spiritual tertinggi. Itu adalah awal yang sangat berharga untuk dapat mengetahui kesejatian kehidupan. Apalagi bila kemudian kita dapat Manunggal dengan-Nya  (baca: Olah Roh, Manunggaling Kawula Lan Gusti ).  Proses ini juga bisa diawali dari kepercayaan agama atau keTuhanan, yang kemudian dibuktikan sendiri kebenarannya, yaitu kebenaran agama dan kebenaran Tuhan, bukan sebatas hanya percaya saja pada ajaran agama, dan kemudian memaksakan dogma dan doktrin agama. Pengetahuan apapun yang kita peroleh akan menambah hikmat dan kebijaksanaan kita.
Dalam jaman sekarang ini, objek pengetahuan untuk dipelajari tidak harus selalu mengenai alam gaib dan kegaiban, tetapi bisa juga pengetahuan yang terkait dengan kehidupan sehari-hari. Dengan kepekaan rasa batin dan ilham jawaban yang mengalir, seseorang akan dapat lebih mudah mencari jawaban dari suatu permasalahan beserta cara-cara pembuktian kebenarannya. Pengetahuan-pengetahuan itu akan berguna dalam kehidupan sehari-hari.
Contoh yang sederhana adalah cerita tentang adanya suatu mahluk hidup yang secara umum disebut kuman (bakteri, virus, amuba), yang sering disebut sebagai penyebab suatu sakit / penyakit, yang sedemikian kecilnya ukuran tubuhnya sehingga tidak dapat diinderai dengan mata kita, hanya dapat dilihat melalui mikroskop, dan perhatian dunia medis telah banyak dicurahkan untuk menciptakan obat-obatan untuk menangkal / membunuh keberadaan kuman ini. Bagi kita yang belum pernah melihatnya secara langsung, kita hanya bisa percaya saja dengan cerita keberadaan kuman itu (sama dengan percaya saja pada ajaran agama). Walaupun tidak bisa membuktikan sendiri kebenarannya, tetapi kita percaya, karena kita banyak menerima cerita kedokteran, juga karena ada bukti-bukti berupa foto-foto gambarnya. Manusia di bidang kedokteran / kesehatan atau petugas laboratorium biologi / mikrobiologi dapat menuntun dan mengajar kita, menjadi guru sejati kita, bila kita ingin melihatnya sendiri dan membuktikan kebenaran keberadaannya berikut aspek pengetahuan di dalamnya.
Cerita tentang kuman sebagai penyebab suatu sakit / penyakit adalah cerita yang umum di masyarakat, sudah dibuktikan secara logis dengan berbagai peralatan modern dan sudah diterima secara luas sebagai sebuah kebenaran. Ini adalah contoh sederhana suatu dogma dan doktrin manusia pada jaman modern, yang kita pasti akan dicemooh bila mempunyai pandangan yang berbeda. Tetapi, apakah pandangan di atas adalah sebuah kebenaran mutlak ?   Apakah perlu dikaji lagi kebenarannya ?  Bila dikritisi lebih lanjut tentang suatu sakit / penyakit yang berhubungan dengan kuman, benarkah kuman itu pasti adalah penyebab awal dari suatu sakit / penyakit ?  (Mengenai pandangan lain tersebut silakan dibaca tulisan:  Penyebab Awal Sakit-Penyakit).

Bila kita memiliki kebijaksanaan, kita akan dapat menerima suatu pandangan lain yang tidak sejalan dengan pandangan umum, yang walaupun mungkin tidak bisa dibuktikan dengan cara-cara modern (karena cara-cara modern juga mempunyai keterbatasan), tetapi mungkin bisa dibuktikan kebenarannya dengan cara lain, atau bisa diterima kebenarannya dengan rasa.  Apapun juga pengetahuan yang kita dapatkan sesudahnya, akan menjadi kebijaksanaan yang bersifat kesepuhan (hanya baik bila hanya kita sendiri yang tahu dan tidak perlu dipertentangkan dengan pandangan dan pendapat orang lain yang tidak sejalan).
Begitu juga dengan keberadaan mahluk halus di sekitar kita, yang tidak dapat diinderai dengan mata kita. Bila secara rasa batin kita dapat merasakan keberadaannya, kita dapat memperjelas dengan cara penglihatan gaib, atau dengan cara kebatinan / spiritual yang lain. Kemampuan melihat gaib dan berkomunikasi dengan gaib akan sangat berguna untuk melihat sendiri kebenaran keberadaannya. Kemampuan melihat gaib dan berkomunikasi dengan gaib juga akan sangat berguna untuk mendapatkan sosok-sosok gaib yang dapat menuntun kita untuk mengetahui hal-hal gaib yang akan sulit kita ketahui bila hanya melakukan pencarian sendiri, apalagi mengenai pengetahuan yang sifatnya berdimensi tinggi.
Begitu juga bila kita memiliki kepekaan batin yang tinggi, yang bisa merasakan sesuatu kejadian yang akan terjadi, seringkali terpaksa harus disimpan untuk diri kita sendiri. Tidak semua orang dapat menerima ucapan kita tentang sesuatu yang akan terjadi, dan tidak semua orang dapat menghargai kelebihan kita itu. Tetapi orang-orang yang bijaksana mungkin akan mendapatkan manfaat dari pengetahuan dan ucapan-ucapan kita.
Kemampuan kita untuk mengetahui keberadaan tentang sesuatu mahluk gaib, kegaiban alam, atau apapun juga yang secara umum tidak diketahui oleh orang lain, akan menjadi kebijaksanaan yang bersifat kesepuhan (hanya baik bila hanya kita sendiri yang tahu dan tidak perlu dipertentangkan dengan pandangan orang lain yang tidak sejalan).
Sesuatu objek yang sudah kita ketahui keberadaannya, kemudian kita pelajari sisi pengetahuan spiritualnya, aspek asal-usul keberadaannya, tujuan keberadaannya, apa saja perbuatannya, apa saja pengaruhnya, dsb. Secara pribadi pengetahuan itu akan menjadi pengetahuan yang bersifat kebatinan / spiritual. Seseorang yang mempelajari dunia spiritual, atau bahkan yang digelari master spiritual sekalipun, tidak berarti dia mengetahui segala-galanya. Tentang aspek pengetahuan apa yang diketahuinya dan akan menjadi sejauh mana pengembangan spiritualitasnya akan tergantung pada ketekunan dan interest masing-masing.

Bila kita membahas hakekat kesejatian alam semesta, akan sulit sekali pembuktiannya, karena pengetahuan dunia nyata manusia tentang alam semesta, tentang Galaksi Bima Sakti saja masih terbatas. Baiklah kita dongeng dengan yang nyata bisa kita alami sendiri, yaitu tata surya kita dengan matahari sebagai pusatnya.
Komponen utama sistem Tata Surya adalah matahari. Hampir semua objek-objek besar yang mengorbit / mengelilingi matahari terletak pada bidang edaran bumi, yang dinamai ekliptika. Semua lintasan planet terletak sangat dekat pada ekliptika, sementara komet dan objek-objek asteroid biasanya memiliki beda sudut yang sangat besar dibandingkan ekliptika.
Objek yang mengorbit matahari dapat diklasifikasikan dalam tiga golongan, yaitu planet, planet kerdil, dan benda kecil Tata Surya.
Matahari memiliki delapan planet: Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus, dan Neptunus.
Matahari memiliki lima buah planet kerdil: Ceres, Pluto, Haumea, Makemake, dan Eris.
Ribuan objek-objek lain berikutnya yang mengitari matahari adalah benda-benda kecil Tata Surya.


>>  Bagaimana pembuktiannya bila suatu hasil pencarian spiritual mengatakan :
1. Masih ada 2 lagi objek besar yang mengitari matahari, yang belum ditemukan dengan teknologi manusia. Posisi lintasan orbitnya tidak dekat dengan ekliptika. Masing-masing bentuknya tidak bulat seperti planet, tetapi seperti pecahan batu, sehingga tergolong asteroid (atau planet batu). Yang satu ukurannya kira-kira sebesar bumi dan yang satunya lagi seukuran 3/4 bumi.
2. Ketika planet-planet berada pada posisi satu garis lurus terhadap matahari, ada “tangan gaib” yang bekerja menjaga, menetralisir pengaruh akumulasi gravitasi matahari dan planet-planet, sehingga planet-planet dan satelitnya tidak saling bersentuhan dan bumi yang berada di tengah garis planet-planet itu tidak pecah berantakan dan kehidupan di dalamnya tidak binasa. Tangan-tangan gaib yang sama juga ada di galaksi-galaksi lain di luar galaksi Bima Sakti.
3. Di luar galaksi Bima Sakti juga ada kehidupan lain. Tetapi mereka tidak memiliki roh dan tidak hidup dengan perasaan seperti manusia di bumi. Mereka tidak hidup dengan nafsu kekuasaan, ketamakan, kemalasan, kesombongan, dsb. Mereka menjalani kehidupan dengan melakukan yang benar menurut pikiran mereka. Mereka hidup dengan insting, naluri dan pikiran, tidak dengan perasaan, sehingga hidupnya lebih rasional dan bisa membangun kehidupan teknologi yang lebih maju dibandingkan kehidupan teknologi manusia di bumi.
4. Teori Albert Einstein dengan rumusnya yang terkenal  E = mc2 mengasumsikan besarnya energi yang dihasilkan dari massa suatu materi tanpa ada sisa sampah (residu), sehingga semuanya bisa terkonversi menjadi energi. Teori ini belum dapat diterapkan dalam dunia nyata, karena seperti contohnya energi nuklir masih menyisakan sampah radioaktif, tidak semuanya dapat hilang terkonversi menjadi energi.
Lompatan besar teknologi manusia akan terjadi pada penggunaan listrik, elektromagnet dan teori Einstein tersebut, sampai kombinasi penggunaannya berhasil menghasilkan suatu energi baru yang disebut energi plasma (seperti dalam film Startrek).
Dengan kemajuan teknologi listrik dan elektromagnet manusia dapat membuat pergerakan benda mekanik menjadi minim gesekan dan benturan, dapat lepas dari gaya gravitasi dan dapat bergerak cepat di udara atau di luar angkasa tanpa mengalami hambatan udara atau pergesekan / benturan dengan benda lain (dapat membuat perisai magnetik). Dengan telah ditemukannya energi plasma, manusia akan sedikit sekali bergantung pada BBM dan akan mulai menggunakan mineral lain sebagai penggantinya, mineral yang bisa ditemukan manusia di planet bumi maupun yang akan ditemukan di planet-planet lain, dan dapat menjadi sumber energi untuk peralatan yang berteknologi tinggi dan yang membutuhkan energi yang besar dan banyak.
—————–
 Tambahan :

Mengenai poin nomor 1 di atas, selain yang sudah disebutkan di atas, sebenarnya masih ada lagi objek besar yang mengitari matahari, yang belum ditemukan dengan teknologi manusia, di antaranya sbb :

– Selain 2 buah objek besar yang sudah disebutkan di atas, masih ada 3 buah objek besar lagi.
Bentuknya seperti planet batu. Masing-masing ukurannya kira-kira  1¼,  1½, dan 1¾  ukuran bumi.

– Ada satu objek besar seukuran 2 kali ukuran bumi yang bergerak dan bercahaya berekor seperti komet.

– Ada satu buah objek besar tidak kelihatan mata, wujudnya seperti sebentuk energi yang bergerak
memanjang. Bila ada batu atau benda-benda kecil lain berada di jalur lintasannya, ketika energi ini bergerak
melintasinya, maka benda-benda tersebut akan terdorong menyingkir. Jika bentuk energi ini dapat
terlihat oleh mata, maka penampakkannya mirip seperti komet panjang berekor.

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s